What's in this blog

I don't tell you a lot about theories, you can Google them easily. I tell you about my opinion, which can affect your opinion and open your mind about marketing and branding.
Tampilkan postingan dengan label Brand Name. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Brand Name. Tampilkan semua postingan

Kamis, 14 Mei 2015

Russian Pointe - Brand Name Unggulan (2)

Saya sudah menjelaskan mengenai sepatu ballet di post sebelumnya. (Yang belum baca, baca dulu deh). Ini adalah post lanjutan dari "Russian Pointe - Brand Name Unggulan (1)". Anda sekarang sudah tahu bahwa pointe shoes adalah dambaan dan prestis untuk penari ballet. Dalam dunia ballet, Russian Ballet adalah yang paling terkenal dan dinilai paling susah kurikulumnya. Sampai ada ungkapan, "no matter how good you dance, you will never dance better than a 10 years old Russian dancer".

Ada beberapa sekolah ballet di Rusia yang paling ternama, diantaranya adalah (Kirov) Mariinsky Ballet dan Bolshoi Ballet. Penari-penari ballet jebolan kedua sekolah tersebut mempunyai kemampuan yang sudah tidak diragukan lagi. Mereka berkarir secara internasional. Penari-penari Rusia favorit saya diantaranya adalah Svetlana Zakharova dan Natalia Osipova.



Svetlana Zakharova






Natalia Osipova

Brand Russian Pointe diciptakan oleh Aleksandra Efimova pada tahun 1998. Pasar awal yang disasar Aleksandra adalah pasar Amerika karena saat itu Aleksandra masih berdomisili di Amerika. Walaupun begitu, Russian Pointe diciptakan handmade di Rusia dengan bahan-bahan berkualitas terbaik dan pengrajin yang high skilled. Sekarang Russian Pointe sudah membuka outletnya di berbagai belahan dunia dan menjual produknya secara online. Produk yang dijual juga bukan hanya pointe shoes, tetapi juga leotard (baju ballet), aksesoris perlengkapan ballet, bahkan buku mengenai pointe shoes. 

Meski begitu, brand name dari Russian Pointe tidak berubah. Nama ini tetap dipertahankan dan bukan hanya menjadi brand dari pointe shoes, tetapi juga leotard dan produk lain. Brand ini mempunyai mempunyai dua kebanggaan ballerina : pointe shoes dan Russian Ballet.


Menggabungkan keduanya menjadi satu tentu merupakan suatu strategi branding yang pintar. Brand association dari Russian Pointe menjadi merek pointe shoes yang profesional, mahal, berkualitas sangat baik, dan menjadi kebanggaan bagi para pemakainya.

Aleksandra tidak sekedar membuat brand ini menjadi menarik karena namanya. Russian Pointe tetap mengutamakan kualitas produknya. Brand association ini benar-benar merupakan suatu kenyataan. Aleksandra tidak menyia-nyiakan kesempatan brand association yang sangat positif dari konsumen ini. Dikembangkannyalah produk lain dengan brand name yang sama. Penjualan produk lain dapat terdongkrak dengan pemakaian brand name yang sama.

Russian Pointe menjadi salah satu brand unggulan untuk pointe shoes, menyaingi brand-brand pointe shoes terkenal lainnya seperti Bloch, Grishko, Capezio, dan lain-lain.

Russian Pointe - Brand Name Unggulan (1)

Sebagai seorang penari ballet, saya merasakan kebutuhan yang besar dan krusial dalam memilih sepatu ballet. Kali ini saya akan membahas satu merek apparel ballet yang besar, Russian Pointe. Oh ya, sebelumnya saya akan menjelaskan sedikit mengenai ballet untuk Anda yang masih asing dengan ballet.







Penari ballet berlatih menggunakan sepatu yang beragam. Pada mulanya, penari akan menggunakan soft shoes, sepatu ballet yang terbuat dari bahan kanvas atau kulit. Sepatu ini flexible dan sangat lembek. Sol soft shoes ada yang terpisah seperti di gambar (split sole), ada juga yang menyatu dari ujung ke ujung (full sole)












Lalu setelah beberapa tahun berlatih, penari akan mulai memakai sepatu yang disebut demi pointe. Sepatu ini merupakan peralihan dari soft shoes ke pointe shoes. Sepatu ini agak keras di bagian depan dan penampang, tapi lama kelamaan akan menjadi lembek. Sudah diberi tali juga untuk diikat ke kaki, bukan pakai karet lagi









Lalu penari akan memakai sepatu pointe shoes. Sepatu ini sangat keras, bagian ujung maupun penampangnya. Pointe shoes akan bertambah lembek, tapi tidak akan lembek-lembek banget. Jika asosiasi penari ballet menurut anda adalah penari yang menari pakai jempol, inilah sepatu yang dipakai. Pointe shoes dapat membuat penari terlihat berdiri di atas jempol.

 Pointe shoes bisa dibilang gengsi dan kebanggaan bagi penari ballet. Anak-anak yang masih memakai soft shoes seringkali terus bertanya kapan mereka diperbolehkan memakai pointe shoes. Tidak mudah untuk mencapai tahap ini. Dibutuhkan latihan bertahun-tahun dan kekuatan kaki yang tinggi.



Nah, segitu dulu tentang balletnya. Kalau diteruskan saya bisa-bisa ganti nama blog menjadi "The Ballerina's Journal" :) 
(bersambung)

Rabu, 13 Mei 2015

Dua Puluhan - Branding yang Berani

Kemarin saat dan teman-teman mencari makan siang, kami menemukan sebuah tempat makan berkonsep seperti The Kiosk, dimana beberapa merek makanan dikumpulkan di satu tempat. Tempat makan ini bernama Pojok Kuliner, letaknya ada di dekat jalan Cilaki. Kecil sih, hanya ada 3 merek makanan yang ada disana, salah satunya sepertinya punya pengelola Pojok Kuliner itu sendiri. Ada satu merek yang menarik bagi saya. Namanya Dua Puluhan. Ternyata dinamai begitu karena semua makanan yang dia jual harganya Rp. 20.000. Ada dua jenis makanan, yaitu nasi goreng dan nasi ayam fillet.

Dua Puluhan merupakan usaha yang terbilang sangat baru. Berdiri pada tanggl 1 April 2015, Dua Puluhan baru berjalan sekitar 1,5 bulan sampai artikel ini ditulis. Dua Puluhan mempunyai instagram yang followersnya sudah sebanyak 306. Yusuf, pemilik Dua Puluhan mengatakan bahwa baru ada 1 cabang Dua Puluhan dan layanan lain yang diberikan adalah delivery service. Yusuf dan ibunya melakukan segala hal tanpa dibantu karyawan, mulai dari memasak, pengantaran produk, sampai menjadi admin instagram.



Dua Puluhan mempunyai slogan "Because nowadays, certainty is hard to find". Yusuf dapat melihat peluang dari fenomena ketidakpastian yang dialami konsumen. Konsumen seringkali "diberatkan" dengan adanya pajak yang "tiba-tiba" muncul. Konsumen juga tidak mempunyai kepastian akan harga suatu makanan di dalam restoran. Konsumen biasanya bilang "Ya kalau makan disana 20-30an lah". Dua Puluhan hadir dengan kepastian - hal yang diinginkan oleh semua orang - bahwa semua produknya mempunyai harga yang sama, tidak pakai pajak, tidak ada tambahan service, udah Rp.20.000 aja!

Saya rasa keputusan branding ini sangat berani. Bayangkan beberapa tahun lagi, atau bahkan tahun depan, disaat daya beli masyarakat naik, adanya inflasi, harga bahan baku ikut naik, dan tentu saja harga jual produk juga naik, bagaimana dengan brand Dua Puluhan ini? Apakah masih tetap akan bernama Dua Puluhan meskipun harga produk mau tidak mau dalam jangka panjang tidak akan menjadi dua puluhan lagi?

Yusuf sendiri masih gambling mengenai hal itu. Sebagai lulusan jurusan hukum Universitas Padjajaran, Yusuf paham betul betapa sulitnya proses pendaftaran hak paten merek. Rasanya tidak mungkin kalau setiap tahun ia harus berganti nama menjadi Dua Puluhsatuan, Dua Puluhlimaan, dan seterusnya. Menurut saya sih, Dua Puluhan masih oke digunakan dalam beberapa tahun kedepan. Dua Puluhan kan bisa saja 21, 22, 23, sampai 29 pun itu semua masih dua-puluhan kan?
Esensi certainty pun tidak akan hilang karena semua produknya masih mempunyai harga yang sama, dan harga yang sama pula dengan yang tertera di menu. Tidak adanya tax and service sesungguhnya merupakan faktor kecil yang bisa membuat konsumen merasa senang. Kepastian tidak adanya tax and service  ini bisa menjadi salah satu keunggulan Dua Puluhan.

Soal target pasar, Yusuf ingin semua orang dari segala usia bisa menikmati makanan di Dua Puluhan. Makanya dibuat mulai dari makanan pedas hingga ayam fillet berbumbu saus keju. Salah satu menu favorit di Dua Puluhan adalah "Nyuju" yaitu nasi, ayam fillet saus keju, sayuran, dan kentang kering.


Nyuju yang sama persis kayak gambarnya!

Peluang yang sangat besar yang bisa diraih oleh Dua Puluhan menurut saya adalah kalangan anak muda - SMA, mahasiswa, karyawan muda. Dilihat dari harga, Rp. 20.000 bukanlah harga yang mahal. Terlebih dengan porsi yang besar dan rasa yang enak, siapa yang tidak rela mengeluarkan selembar uang hijau saja.

Untuk Dua Puluhan yang baru seumur jagung, brand awareness is extremely important. Dua Puluhan sebaiknya membangun brand awareness dengan gencar dulu. Melihat uniknya konsep yang diusung Dua Puluhan, rasanya tidak akan sulit untuk masuk ke dalam consumer's heart and mind. Konsumen dapat dengan mudah mengingat nama brand ini.

Cara membangun brand awareness tentu banyak sekali, beberapa diantaranya adalah dengan meng-endorse food blogger misalnya. Atau dengan mengikuti acara-acara hits Bandung. Mengikuti food and fashion events yang sedang marak atau acara-acara kampus mungkin bisa menjadi peluang bagi Dua Puluhan. Harga makanan yang ada di acara-acara seperti itu kan mahal. Dua Puluhan dapat hadir sebagai makanan yang cukup murah. Tinggal menyiapkan packaging yang simpel dan praktis lalu sesuaikan porsi.

Ngoncom (Nasi goreng oncom plus ayam) yang saya beli jam 10 malam.
Niatnya mau cobain sesendok, eh malah keterusan dan akhirnya habis.

Penasaran sama Dua Puluhan? Datang saja ke D'jokul (Pojok Kuliner), Jalan Cendana no.11, Bandung. Kunjungi juga instagramnya di @duapuluhan_








Minggu, 15 Maret 2015

Brand Name yang Mirip, atau Bahkan Sama

Setelah di entri sebelumnya saya membahas mengenai hal-hal teknis tentang brand name, sekarang saya ingin menaruh perhatian khusus pada aspek "Unique and Different". Berbahaya sekali jika terjadi pelanggaran di aspek ini. Penjualan menurun atau komplain dari konsumen masih belum apa-apa. Bisa saja jika anda dianggap copycat, masalah ini dibawa ke ranah hukum.

Brand name Anda harus unik dan berbeda, dalam arti memang belum ada sebelumnya terutama di dalam industri yang sama. Nama yang mirip dengan nama lain pun bisa menjadi masalah dan dapat menimbulkan kebingungan dalam benak konsumen.

Saya pernah mengalami sendiri masalah ini. Teman saya, sih sebenarnya. Mereka mempunyai satu band yang dinamakan Lastoria. Band ini baru berdiri, baru mempunyai satu buah single, dan belum rekaman, istilahnya sih masih iseng-iseng saja. Tapi mereka ingin membawa band ini ke tingkat yang lebih serius dan ingin mengkomersilkannya. Ternyata, ada band lain di Indonesia yang bernama Astoria. Band ini sudah mempunyai album dan label mereka sendiri. Bagaimanapun Lastoria yang newborn akan kalah dengan Astoria yang sudah lebih punya nama. Teman-teman saya pun memutuskan untuk mengganti nama band mereka.

Tentu saja nama band mereka memang tidak sama persis, tapi hampir sama. Salah satu band bisa dianggap copycat yang lain, meskipun misalnya dalam kenyataannya masing-masing band memikirkan nama sendiri di tempat yang berbeda, tapi yang menang kan, yang punya uang.

Kasus nama sama terjadi pada Axioo. Biasanya yang laki-laki akan langsung teringat merek komputer, tapi kebanyakan perempuan mengasosiasikan Axioo terhadap perusahaan foto pre-wedding. Kedua merek ini berdiri sudah lama, tapi saya belum pernah dengar ada kasus saling tuntut antar kedua brand ini. Asumsi saya, tidak adanya perseteruan ini karena perbedaan industri usaha yang mereka jalani. Bedanya cukup jauh, jasa fotografi dengan penyedia komputer. Konsumen tidak akan mengalami "salah pilih", dan sampai sekarang masing-masing brand berjalan dengan baik.

axioo komputer

axioo photography

Kasus yang cukup jelas terjadi pada Oreo. Oreo adalah biskuit berwarna hitam dengan krim vanila di dalamnya. Jelas Oreo telah menjadi generic brand. Sering sekali dijumpai di buku menu nama seperti "Milkshake Oreo" dan "Oreo Pancake". Yakin mereka benar-benar pakai Oreo? Ingatkah Anda terhadap merek Rodeo dan Goriorio yang sangat serupa baik dalam packaging maupun bentuk dan rasa produk?

Sebenarnya tipe makanan biskuit hitam dengan krim vanila ini bisa disebut "cookies and cream", tapi masih banyak yang lebih aware dengan nama Oreo dibandingkan "cookies and cream". Rodeo dan Goriorio adalah merek lokal Indonesia yang bisa dibilang "meniru" Oreo. I think it is so obvious. Dari nama saja sudah jelas, ditambah dengan kemasan yang warnanya serupa, dan produk yang hampir sama persis bentuk dan rasanya. Harga kedua produk ini tentu lebih murah, dan mempunyai citarasa yang kalah dengan Oreo. Apakah persepsi konsumen positif terhadap dua merek ini? I don't think so. Konsumen akan langsung men-judge copycat once they saw the packaging.


Beberapa merek yang ditiru dengan sangat hebat oleh negara Tiongkok :

Puma jadi Numa, dengan logo yang sama

Blackberry dan Blueberry. Will there be Raspberry?

Gillette ceritanya

PolyStation. I found this so funny

Brand Name

Saat melakukan pemilihan akan suatu brand name, pemasar harus mempertimbangkan banyak aspek. Brand name harus mencerminkan brand essence dan brand positioning suatu produk. Agar mempunyai brand name yang baik, harus dimulai dari membuat brand strategy yang baik dan konsisten. Brand name yang bagus adalah yang bisa menyentuh sisi emosional konsumen dan pikiran dari konsumen yang tidak aware. Hal ini dapat dicapai jika selaras dengan brand strategy

Brand name bisa dibuat berdasarkan banyak hal :

1. Dari tempat asal brand tersebut dibuat
Fujifilm yang berasal dari Jepang. Nama Fuji berasal dari gunung Fuji yang ada di Jepang. Brand Nokia berasal dari pabriknya yang berada di kota Nokia di Finlandia.

2. Cerminan brand personality produk
Seiko, perusahaan arloji asal Jepang. Seiko merupakan bahasa Jepang yang artinya "sempurna" atau "sukses.

3. Nama karangan
Ini disebut Neologism, yaitu penciptaan kata baru yang sebelumnya tidak ada. Contohnya adalah Kodak. Nama Kodak dibuat karena huruf K terkesan mempunyai karakter yang kuat. Kodak tidak mempunyai arti tapi terdengar positif.

4. Akronim
Singkatan dari nama panjang brand. Banyak bank yang menggunakan ini. Misalnya BCA, BRI, dan BPR.

5. Nama pemilik
Nama pemilik dapat mencerminkan kualitas dan karakter produk. Misalnya pada sekolah musik, ada Rumah Musik Harry Roesli, Purwa Caraka, dan Indra Music School. Nama pemilik juga lazim digunakan dalam sekolah ballet, misalnya Christine Ballet, Taneke Ballet, dan Marlupi Dance Academy.



Sumber nama dapat menciptakan persepsi positif dari sisi emosional konsumen, sekarang hal-hal yang sifatnya sedikit teknis.
Apa yang harus diperhatikan dalam membuat brand name yang baik :

1. Having Positive Associations and Meaning
Sebuah brand name harus mempunyai kesan yang positif dalam sisi emosional konsumen.

2. Providing Consumer Information
Lebih baik lagi jika dalam satu atau dua kata brand name yang singkat itu, Anda sudah dapat memberi sedikit penjelasan tentang produk Anda.

3. Unique and Different
Avoid generic brand name! Brand name harus unik dan berbeda dengan pesaing dalam industri sejenis. Nama yang mirip-mirip belum tentu akan berhasil meningkatkan penjualan, malah bisa dianggap copycat dari brand yang telah ada. Ini akan saya bahas di entry selanjutnya, ya.

4. Being Easy to Spell, Pronounce, and Remember
Tidak usah menciptakan brand name yang susah-susah dengan filosofis tinggi namun penggunaannya tidak praktis. Jika brand name susah diucapkan more likely akan membuat awareness konsumen rendah. Anda juga akan merasa kesulitan saat membuat akun media sosial, misalnya.



Referensi : buku Brand Cookbook